SIBUK URUSAN DUNIA ATAU AKHIRAT?
Semua orang pasti sibuk. Tidak ada yang tidak sibuk. Sibuk adalah aktivitas yang rutin dan seharusnya dilakukan. Pilihan manusia adalah ia akan disibukan dalam hal tentang apa. Apakah hal-hal yang berkenaan dengan kepentingan dunia atau hal-hal yang berkenaan dengan perkara akhirat?
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina (tidak bernilai di hadapannya).“ (H.R. Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani).
Dalam hadis di atas disampaikan, bagaimana celaan kepada mereka yang terlalu mencintai dunia hingga hidupnya disibukkan untuk kepentingan dunia. Selain itu, anjuran seharusnya seorang muslim senantiasa disibukkan oleh urusan akhirat. Walaupun yang dimaksudkan bukan latah hanya menyibukkan ibadah dan tidak menunaikan tanggung jawabnya sebagai manusia. Namun, maknanya adalah senantiasa menjalankan kehidupan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan memprioritaskan kesibukan untuk memperkuat ketaatan.
Ketika menjalankan kehidupan akan ada tiga aktivitas yang melingkupi, yaitu, pertama, ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT dan dirinya sendiri. Kedua, muamalah, aktivitas yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan sesamanya. Apabila mereka lebih mencintai akhirat daripada dunia, maka ini memiliki makna melalukan berbagai aktivitas baik ibadah dan muamalah berdasarkan bagaimana Islam memandang. Inilah yang dinamakan memprioritaskan akhirat daripada dunia. Bukan malah melakukan kemungkaran demi mendapatkan kenikmatan dunia, sejatinya inilah contoh mereka yang lebih mencintai dunia daripada akhirat.
Begitu pula soal kesibukan. Semua orang pasti sibuk, tetapi bagaimana prioritas kesibukannya adalah sibuk untuk ketaatan, bukan sibuk mengejar dunia yang tiada habisnya. Karena sesibuk apa pun manusia ketika ia bisa memprioritaskan ketakwaan, tentu ia akan lebih mengutamakan kepentingan Allah dan Rasul-Nya di atas kepentingan dirinya sendiri.
Ketika ia harus banting tulang mencari nafkah untuk mencukupi keluarganya, ia senantiasa memprioritaskan diri untuk mengkaji Islam, berdakwah, dan menguatkan syiar Islam. Dakwah dan ngaji bukan soal sempat atau tidak sempat, longgar atau tidak longgar, tetapi harus diprioritaskan dan diutamakan. Karena mengutamakan kepentingan dakwah adalah bagian wujud kita mengutamakan kepentingan Allah dan Rasul-Nya. Betapa bahagianya jika kita bisa menjadi hamba yang bisa mengutamakan kepentingan Allah dan Rasul-Nya di atas kepentingan diri ataupun keluarga kita?
Sungguh, prioritas amal atau kesibukan untuk dakwah tidak akan mampu terwujud kecuali ada dorongan kuat dari diri kita untuk senantiasa mengutamakannya. Karena namanya hawa nafsu dan godaan setan pasti akan menyesatkan prioritas amal kita. Oleh karena itu, betapa pentingnya pengendalian diri dan sadar posisi agar kita senantiasa berada dalam jalan Islam. Tetap semangat membangun peradaban Islam dengan ngaji dan dakwah Islam kaffah! [] Ika Mawarningtyas